MAYBRAT, LUXEXORIENTE. COM – Menanggapi pertemuan sepihak yang dilakukan oleh partai koalisi Sako di Ayamaru Agustinus Tenau,S.Sos,M.Si Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Maybrat seperti yang dihubungi melalui media ini via telpon menegaskan bahwa dengan resmi partai Nasdem menyatakan sikap untuk keluar dari koalisi Sako.

Agus Tenau yang Juga sebagai wakil ketua II DPRD Kabupaten Maybrat  juga menanmbahkan 3 alasan yang menyebabkan Partai Nasdem keluar dari Koalisi Sako yaitu sebagai berikut: pertama hal tersebut dilakukan karena dari sisi regulasi pedoman yang sebenarnya menjadi pegangan Pemerintah untuk pergantian jabatan antarwaktu (PAW)  Wakil Bupati Kabupaten Maybrat periode 2017-2022, regulasi itu adalah UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, UU No 10 Tahun 2016 tenatang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dan pemilihan Walikota dan wakil Walikota, adalah kaitan dengan PP 12 tahun 2018 tentang Tata tertip DPR, atauran yang lain adalah UU parpol No 2 tahun 2008 Jo UU no 2 tahun 2011. Jika melihat kondisi kekinian sebagaimana dilakukan di Kabupaten Maybrat untuk milih kandidat Wakil Bupati,tentu tidak nyambung oleh apa yg dilakukan oleh koalisi 3 partai yaitu PDIP, Golkar, dan PKS.

Alasan Partai Nasdem keluar ungkap agus adalah PDIP dalam konteks pemilu tahun 2017 lalu parta ini mempunyai 3 kursi di legislatif, dalam UU Pilkada menyebutkan bahwa minimal Partai pengusung ada 20% total kursi di perlemen untuk mengusung Bupati dan Wakil Bupati. Sedangkan total kursi di DPRD kabupaten Maybrat ada 20 kursi. Jika berdasrakan aturan tersebut maka tindakan yang dilakukan partai PDIP Kabupaten Maybrat di Ayamaru itu cacat hukum dan tidak sah karena PDIP hanya memiliki 3 kursi tanpa kehadiran Partai Nasdem. Hal lain ungkap agus adalah Koalisi partai pengusung sudah dibubarkan oleh Bupati Kabupaten Maybrat Dr. Bernad Sagrim, MMseusai prlantikan Bupati di lapangan Ela Ayamaru pada tahun 2017 silam. Jika tanpa kehadiran Partai Nasdem maka tindakan PDIP tersebut gugur demi hukum.
Perihal kedua adalah
Berdasarkan surat menyurat, ini keinginan PDIP dan Golkar versi dewan pembina, sementara Partai Golkar ada versi pjs, kami Nasdem tdk dilibatkan. PDIP keluarkan undangan, sementara Kami Nasdem pada saat itu ada rapat rapimnas adkasi di jakarta dengan Mendagri. Menurut agus tenau ini politik tdk ada dasar kalau awal kita berkawan kenapa di akhir ini tdk dilakukan dengan baik.

Menurut agus ini kepentingan tidak sehat dan pragmatis demi pencitraan versi 3 partai..

Agus mengingatkan mau konsultasi ke propinisi ke Jakarta dari koalisi 1 partai saja jika tidak ikut tanda tangan maka pasti ditolak dari Provinsi hingga pusat.

berikut agus menekankan bahwa di Maybrat ada kearifan lokal yg dijujung tinggi dari 3 daerah besar yaitu Daerah Aifat, Ayamaru, Aitinyo, Jika Jabatan Bupati sudah dipegang dari Ayamaru, Sekda dari aitinyo maka Wakil Bupati seharusnya menjadi milik orang Aifat.

Menurut agus tenau Leonardus Kore cukup memenuhi syarat, dia mewakili masyarakat Aifat Raya dan juga dia mewakili partai Nasdem. Partai Nasdem akan tetap mengusung kandidat pengganti Wakil Bupati kabupaten Maybrat, Partai Nasdem tetap berjuang hingga titik darah penghabisan tegas Agus.

Politisi senior ini pun juga mengajak semua pihak untuk tetap mengikuti proses dan tahapan yang ada, Nasdem ada kandidat yaitu Leonardus Kore, S. Hut, PDIP usung Markus Jitmau, Golkar usung Sarteis Wanane. NasdemTetap pada pendirian. Nasdem terus bertempur dengan berbagai cara. Tutup Agus Tenau.

 

Editor: MA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *