LUXEXORIENTE.COM – Sejak bergabungnya Papua ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1961, Tanah Papua dan manusianya hampir nyaris tidak tidur nyenyak. Agresi militer Indonesia terhadap anak bangsanya sendiri tak berujung sampai hari ini. Berbagai elemen maupun pribadi menyuarakan HAM di Papua dibungkam, diintimidasi dan dipenjarakan. Anak-anak Papua yang berani menyuarakan hak-haknya “dihilangkan”, media asing tidak diizinkan masuk dan meliput jeritan hati manusia pemilik Tanah ini. Liteni panjang penderitaan dan ketidakadilan setiap saat terjadi di Tanah Papua tidak semanis kandungan alamnya  yang penuh susu dan madu.

Kekuatan cengkraman Burung Garuda membuat “Cenderawasih”  dan tanahnya yang berbentuk burung itu tak berdaya, sulit mengekspresikan dirinya, miskin diatas tanahnya yang kaya, tidur diatas emas, perak, nikel dan lainnya tapi perut kelaparan, tinggal di hutan belantara tapi merasa gerah seperti di padang pasir. Burung Garuda itu tidak menyadari bahwa semakin erat ia menggenggam semakin  capai dan lelah, pada saatnya genggamannya akan terlepas dengan sendirinya.

Oleh: Buce Takerubun

Genggaman yang erat membawa malahpetakan baik Burung Garuda maupun “Cenderawasih” penghuni dan pemilik Tanah Papua. Kehidupan dan tatanan social kemasyarakatan dan budaya Cenderawasih seakan mau dimusnakan oleh cengkraman Garuda. Buluh Burung Garuda banyak juga yang tercabut/gugur akibat egonya sendiri begitu pula penghuni Tanah ini. Genggaman Burung Garuda semkin kuat membuat genggamannya mencari solusi terbaik untuk melepaskan diri dari cakar Burung Garuda itu. Burung garuda mungkin berpikir bahwa sudah memberikan makan buah pohon beringin kepada Cenderawasi di Tanah ini dan sudah cukup akan tetapi sayangnya buah yang diberikan tidak diawasi dengan baik sehingga banyak Cenderawasi di Tanah Papua tidak menikmatinya. Garuda pasti pura-pura tidak tahu bahwa buah beringin yang diberikan, pohonnya ada di Tanah Papua ini artinya Cenderawasi di Tanah ini makan buah beringin yang ada tumbuh di Tanahnya sendiri.

Ironis juga para Cenderawasi di Tanah ini walau sudah digenggam  ada saja yang bermain sandiwara dengan Burung Garuda walau saudaranya harus dikorbankan.

Sang pawang Burung Garuda saat ini mencari solusi merebut hati penghuni Pulau Sang Fajar tapi rasanya sudah terlambat karena cakar Burung Garuda sudah lama mencakar dan mencengram, sakit dan pedih. Rintihan pilu Cenderawasi Tanah ini telah menyayat hati penghuni dunia lain membuat Burung Garuda kebingungan saat ini untuk merangkul dengan kasih dibawah kepak sayapnya. Semua peristiwa suka duka yang sudah terjadi antara Burung Garuda dan Cenderawasih ini diakibatkan karena:

  1. Sang Garuda merasa diri lebih gagah perkasa dan tangguh menghadapi Cenderawasih.
  2. Sang Garuda menutup hati dan mengedepankan cakarnya mengatasi situasi persoalan Cenderawasih.
  3. Sang Garuda walau dengan cakarnya yang tajam dan kuat belum berani mengajak Cenderawasih untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan bersama.

Seandainya Sang Garuda dan Cenderawasi saling membuka diri (dialog) maka saya yakin persoalan di Tanah Papua dapat diminimalisir sehingga buluh Garuda dan Cenderawasi tidak jatuh terkulai dengan siasia. (bt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *